Asosiasi Cemas Biaya Logistik Naik 100% Imbas Konflik AS-Iran
Ir. Mahendra Rianto, CSLP, ES.Log
Ketua Umum
04 March 2026
Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk wilayah udara Iran, berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional hingga 100% apabila berlangsung lebih dari dua pekan.
Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menjelaskan, konflik tersebut membuat maskapai penerbangan enggan melintasi jalur udara di atas Iran dan sekitarnya, sehingga berdampak langsung pada pengiriman kargo udara dari Indonesia ke Timur Tengah dan Eropa.
"Kalau dia berkelanjutan lebih dari dua minggu,. biaya logistik naik 50 sampai 100% dibandingkan [tarif di hari] normal,” ujar Mahendra saat dihubungi, Selasa (2/3/2026).
Mahendra mengatakan sebagian besar pengiriman logistik yang berasal dari dalam negeri selama ini mengandalkan hub di kawasan Timur Tengah seperti Dubai dan Qatar.
Namun, akibat situasi tersebut, seluruh rute yang melewati wilayah itu dihentikan sementara. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada pelanggan ekspor, khususnya dari wilayah Bali yang mayoritas menggunakan jalur udara.
“Bali itu lebih udara, udara hold semua, yang ke arah Middle East hold. Bahkan yang ke Moskow ya lewat Bali, itu pun di-hold,” tutur dia.
Untuk menghindari wilayah Timur Tengah dan Iran, pelaku logistik kini mencari rute alternatif melalui Singapura dan Thailand sebagai hub. Namun, Mahendra mengakui biaya pengiriman otomatis akan menjadi lebih mahal. Apalagi, gangguan juga turut dirasakan oleh jalur laut akibat penutupan Selat Hormuz.
Hal ini, kata dia, akan turut berpotensi membuat tekanan tambahan dari sektor energi. Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM dinilai berisiko menghadapi kenaikan biaya logistik apabila terjadi penyesuaian harga BBM bersubsidi.
"Yang kita khawatirkan nanti ini pemerintah akan menaikkan harga BBM untuk logistik yang bersubsidi,” kata dia. "Kita berharap pemerintah lebih bijak melihat itu."
Sejak awal konflik memanas pada Sabtu pekan lalu, konflik semakin tak terbendung dan membuat ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi.
Melansir Bloomberg News, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan militer menyerang lebih dari 1.000 target di Iran, termasuk fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, pertahanan udara, situs peluncuran rudal dan drone, serta pangkalan udara militer.
48 pemimpin Iran tewas "dalam satu serangan" dan AS tahu berapa banyak target yang tersisa, kata Trump kepada reporter Fox News Jacqui Heinrich, yang mengunggah komentarnya di X.
Sementara itu, tiga anggota militer AS tewas dan lima "luka parah" selama operasi melawan Republik Islam, kata Centcom dalam unggahan di X pada Minggu pagi di Washington.
Data terbaru pada hari ini menyatakan jumlah korban tewas di Iran akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu telah mencapai sebanyak 555 orang, menurut Kantor Berita Fars. (ain)
Sumber:
Berita dan Opini ALI Terbaru
Asosiasi Cemas Biaya Logistik Naik 100% Imbas Konflik AS-Iran
04 March 2026
Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk wilayah udara Iran, berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional hingga 100% apabila berlangsung lebih dari dua pekan. Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menjelaskan, konflik tersebut membuat maskapai penerbangan enggan melintasi jalur udara di atas Iran dan sekitarnya, sehingga berdampak langsung pada pengiriman kargo udara dari Indonesia ke Timur Tengah dan Eropa. "Kalau dia berkelanjutan lebih dari dua minggu,. biaya logistik naik 50 sampai 100% dibandingkan [tarif di hari] normal,” ujar Mahendra saat dihubungi, Selasa (2/3/2026). Mahendra mengatakan sebagian besar pengiriman logistik yang berasal dari dalam negeri selama ini mengandalkan hub di kawasan Timur Tengah seperti Dubai dan Qatar. Namun, akibat situasi tersebut, seluruh rute yang melewati wilayah itu dihentikan sementara. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada pelanggan ekspor, khususnya dari wilayah Bali yang mayoritas menggunakan jalur udara. “Bali itu lebih udara, udara hold semua, yang ke arah Middle East hold. Bahkan yang ke Moskow ya lewat Bali, itu pun di-hold,” tutur dia. Untuk menghindari wilayah Timur Tengah dan Iran, pelaku logistik kini mencari rute alternatif melalui Singapura dan Thailand sebagai hub. Namun, Mahendra mengakui biaya pengiriman otomatis akan menjadi lebih mahal. Apalagi, gangguan juga turut dirasakan oleh jalur laut akibat penutupan Selat Hormuz. Hal ini, kata dia, akan turut berpotensi membuat tekanan tambahan dari sektor energi. Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM dinilai berisiko menghadapi kenaikan biaya logistik apabila terjadi penyesuaian harga BBM bersubsidi. "Yang kita khawatirkan nanti ini pemerintah akan menaikkan harga BBM untuk logistik yang bersubsidi,” kata dia. "Kita berharap pemerintah lebih bijak melihat itu." Sejak awal konflik memanas pada Sabtu pekan lalu, konflik semakin tak terbendung dan membuat ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi. Melansir Bloomberg News, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan militer menyerang lebih dari 1.000 target di Iran, termasuk fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, pertahanan udara, situs peluncuran rudal dan drone, serta pangkalan udara militer. 48 pemimpin Iran tewas "dalam satu serangan" dan AS tahu berapa banyak target yang tersisa, kata Trump kepada reporter Fox News Jacqui Heinrich, yang mengunggah komentarnya di X. Sementara itu, tiga anggota militer AS tewas dan lima "luka parah" selama operasi melawan Republik Islam, kata Centcom dalam unggahan di X pada Minggu pagi di Washington. Data terbaru pada hari ini menyatakan jumlah korban tewas di Iran akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu telah mencapai sebanyak 555 orang, menurut Kantor Berita Fars. (ain) Sumber: https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101418/asosiasi-cemas-biaya-logistik-naik-100-imbas-konflik-as-iran
👁️ 9 kali
Best Practice dalam Meningkatkan Akurasi Inventory
26 February 2026
Dalam dunia operasional bisnis dan logistik, akurasi inventory atau ketepatan stok adalah salah satu kunci utama dalam menjamin kelancaran operasional, efisiensi biaya, serta kepuasan pelanggan. Inventory accuracy berarti sejauh mana jumlah stok yang tercatat di sistem sama dengan jumlah fisik yang ada di gudang atau lokasi penyimpanan. Ketidaksesuaian antara data dan kenyataan sering menjadi penyebab masalah operasional seperti kehabisan stok (stock-out), kelebihan stok (overstock), pembatalan pesanan, hingga kerugian finansial. Oleh karena itu, menerapkan best practice dalam meningkatkan akurasi inventory menjadi sangat penting dalam setiap organisasi yang menangani barang fisik.Faktor Penyebab Inventory Tidak Akurat- Kesalahan manusia (human error) saat pencatatan fisik atau input data.- Barang tidak tercatat saat diterima atau dikirim.- Penempatan stok tidak sesuai lokasi yang ditentukan.- Kecurangan, kehilangan atau pencurian barang yang tidak terlacak.- Kurangnya pelatihan staf gudang dan admin.Best Practices dalam Meningkatkan Akurasi Inventory1. Mengadopsi Sistem Manajemen Inventory Modern (WMS / IMS)Teknologi menjadi pondasi utama dalam meningkatkan akurasi inventory. Sistem ini mendukung berbagai fungsi seperti penerimaan barang otomatis, pencatatan lokasi stok, pemindahan stok, hingga pemrosesan pesanan secara akurat.2. Implementasi Barcode dan Teknologi RFIDTeknologi barcode dan RFID terbukti secara signifikan meningkatkan keakuratan data karena mengurangi kesalahan input manual. Penggunaan teknologi ini dapat memberikan pembaruan stok secara langsung di sistem saat barang dipindahkan, diterima, atau dikirim.3. Rutin Melakukan Cycle CountingCycle counting atau pemeriksaan stok secara berkala sangat efektif dalam menjaga data inventaris tetap akurat tanpa harus menghentikan keseluruhan operasi gudang. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat lebih cepat mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan stok sebelum menjadi masalah besar.4. Menetapkan SOP yang Jelas dan AkuntabilitasSOP yang jelas dan terdokumentasi memastikan bahwa setiap pergerakan barang melalui proses yang konsisten. Dengan akuntabilitas yang jelas, perusahaan dapat mengurangi penyesuaian manual yang tidak perlu dan mudah melacak apabila terjadi kesalahan.5. Mengoptimalkan Tata Letak dan Labeling GudangGudang yang tertata rapi dengan lokasi dan label yang jelas sangat membantu dalam mempercepat proses picking dan penempatan barang. Tata letak yang baik mempersingkat waktu pencarian stok, meminimalkan kesalahan pemindahan barang, serta meningkatkan keakuratan data.6. Audit dan Rekonsiliasi Stok Secara TeraturSelain cycle count, audit stok menyeluruh secara bertahap membantu mengevaluasi kondisi inventaris secara komprehensif. Rekonsiliasi ini membantu organisasi mengetahui akar penyebab masalah dan memperbaiki proses internal.Tagar#inventorycontrolTagar#inventoryaccuracyTagar#inventorymanagement
👁️ 23 kali
ALI Minta Pemerintah Ukur Biaya Logistik Nasional 2026, Proyeksi Turun?
24 February 2026
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mendorong pemerintah untuk mengukur ulang kinerja dan biaya logistik nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2026. Pasalnya data terakhir yang dirilis Pemerintah berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2023 atau tiga tahun silam. Ketua ALI Mahendra Rianto menyampaikan, kinerja biaya logistik sudah harus diperbarui untuk melihat kondisi terkini, apakah turun atau justru naik. Dirinya mengusulkan agar informasi ini dapat dirilis setiap dua tahun sekali, bersamaan dengan rilis Logistic Performance Index (LPI) milik Bank Dunia. “Kami usulkan periodenya 2 tahun sekali supaya bisa counter LPI-nya World Bank yang perspektif dan scope-nya berbeda,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026). Menurutnya, metode penghitungan biaya logistik versi Indonesia—Bappenas dan Badan Pusat Statistik (BPS)—lebih mengarah kepada indikator rantai pasok dan logistik. Adapun Bappenas bersama BPS merilis ongkos logistik per September 2023 sebesar 14,29% dari PDB. Masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain di Kawasan, seperti Filipina yang sebesar 13%, Malaysia 13%, Singapura 8%, Thailand 15%, China 14%, India 13%, dan Jepang 8%. Bappenas maupun BPS terpantau belum merilis angka ini lagi, begitu pula dengan Bank Dunia yang merilis LPI terakhir pada 2023. Skor LPI Indonesia 3 dan berada di peringkat 61, sementara Singapura memiliki skor 4,3 dan berada di posisi 1. Sementara dalam Outlook Supply Chain dan Logistik Indonesia 2026 yang ALI rilis, kondisi biaya logistik tinggi menjadi tantangan dan terdampak kondisi geopolitik global dan ekonomi domestik. Misalnya, kenaikan ongkos kirim dan harga kargo global, ditambah fluktuasi harga bahan bakar membebani biaya operasional logistik. Mahendra melihat terdapat sejumlah penyebab masih tingginya biaya logistik di Indonesia. Mulai dari paradoks tingginya biaya di tengah pertumbuhan industri, sering kali oleh inefisiensi operasional dan ketergantungan pada moda transportasi konvensional. Ketimpangan infrastruktur dan distribusi barang ke daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) menyebabkan biaya logistik domestik ke wilayah Timur Indonesia tetap mahal. Bukan hanya itu, tarif tol dinilai membebani biaya operasional perusahaan. Penggunaan jalan tol dinilai belum mampu secara efektif menurunkan total biaya logistik. Pada beberapa rute, total Biaya Operasional Kendaraan (BOK) melalui jalan tol lebih tinggi dibandingkan jalur non-tol. Penyebabnya, yakni meningkatnya biaya perawatan rutin (suku cadang cepat haus), biaya lebih tinggi di tempat peristirahatan/rest area bagi supir, sementara penghematan waktu yang dihasilkan, tidak sebanding dengan biaya tersebut. “Ekspektasi peran pemerintah yang lebih konkret dalam mengatasi problema logistik nasional di Indonesia, terutama untuk menurunkan biaya logistik yang masih tinggi adalah berfokus pada transformasi digital, perbaikan infrastruktur, dan harmonisasi regulasi,” tuturnya. Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20260223/98/1954914/ali-minta-pemerintah-ukur-biaya-logistik-nasional-2026-proyeksi-turun
👁️ 19 kali
