ALI Optimistis Industri Rantai Pasok & Logistik Indonesia 2025, Masih Cerah
Ahmad Mabrori
Logistiknews.id
2025-01-23
LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi, skenario moderat yang mungkin terjadi pada pertumbuhan bisnis Rantai Pasok dan Logistik di Indonesia tahun 2025, yakni diangka 7-10%.
Tahun 2025 juga akan menjadi momentum penting bagi industri rantai pasok dan logistik Indonesia. Bahkan trend pertumbuhan bisnis, inovasi teknologi saat ini juga akan mendorong sektor ini ke arah yang lebih maju.
Disisi lain, E-commerce dan sektor manufaktur masih menjadi penggerak utama, sementara potensi kawasan baru seperti IKN dan wilayah timur Indonesia menciptakan peluang yang menjanjikan, kemudian program program strategis pemerintah seperti hilirisasi komoditas sektor strategis dan Rantai Pasok dan Logistik Halal akan menjadi salah satu faktor pendorong industri rantai pasok dan logistik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Riyanto, saat menjabarkan Outlook Rantai Pasok dan Logistik Indonesia 2025, yang dilaksanakan di Jakarta pada Kamis (23/1/2025).
Pada kesempatan itu, Mahendra di dampingi Ketua Dewan Pakar ALI Nofrisel, Pegiat E-Commerce Hadi Kuncoro, dan Pegiat Industri Fast Food Adithya Sari.
ALI berpandangan berdasarkan hasil analisis proyeksi perekonomian Indonesia yang akan tumbuh sebesar 5-5,1 (BPS 2025), serta proyeksi volume ekspor Indonesia sebesar 7,1 (Kementerian Perdagangan 2025) dan pertumbuhan sektor usaha transportasi dan pergudangan sebesar 9.11% ( BPS Q4 2024).
“Dalam teropong ALI, setiap perkembangan nilai perdagangan, maka terkandung pula perkembangan volume pergerakan barang nya. Sehingga ALI memprediksi, skenario yang mungkin terjadi adalah skenario moderat, yaitu pertumbuhan bisnis Rantai Pasok dan Logistik di Indonesia tahun 2025 diangka 7-10%,” ungkap Mahendra.
Menurutnya, dengan menerapkan langkah yang tepat, industri rantai pasok dan logistik di Indonesia akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional dan memperkuat posisinya di pasar global.
Sebab, kata dia, Industri rantai pasok dan logistik (supply chain) memainkan peran strategis dalam mendukung roda perekonomian nasional. Sebagai tulang punggung rantai pasok, sektor ini menghubungkan produsen, distributor, dan konsumen di berbagai wilayah, baik domestik maupun internasional.
“Dalam konteks Indonesia, yang merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, logistik memegang peranan kunci dalam memastikan distribusi barang yang efisien dan merata di seluruh nusantara,” ujar Mahendra Riyanto.
Dia memaparkan, kontribusi sektor rantai pasok dan logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Bahkan, imbuhnya, data menunjukkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan, yang menjadi inti dari logistik, memberikan sumbangan sebesar 5-7% ( BPS 2024) terhadap total PDB. Potensi ini semakin besar dengan berkembangnya sektor e-commerce, yang diprediksi terus bertumbuh setiap tahunnya, mendorong permintaan akan jasa logistik yang lebih cepat dan efisien.
Selain itu, pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi logistik sebagai salah satu pilar penting dalam meningkatkan daya saing global. Bahkan, proyek infrastruktur berskala besar seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan bandara baru dirancang untuk memangkas biaya logistik yang saat ini masih tinggi, yakni mencapai 14,29% dari PDB – masih tinggi di atas rata-rata global yang berkisar 8-10%.
“Karenanya kami mendorong pembangunan infrastruktur pendukung konektivitas di pelabuhan, bandara dan antar wilayah yang terintegrasi serta medukung antar moda transportasi terjadi salah satu faktor utama dalam mendukung target penurunan biaya logistik 8% pada tahun 2045,” ucap Mahendra.
Daya Saing
Dia menambahkan, dengan peran strategis dan kontribusi yang besar ini, industri rantai pasok dan logistik di Indonesia tidak hanya menjadi penggerak ekonomi nasional, tetapi juga kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Sebab, kata Mahendra, transformasi digital dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tahun 2025 serta mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 % pada tahun 2028-2029.
ALI juga melihat bahwa dinamika perdagangan global yang terus berkembang membuat ketahanan rantai pasokan menjadi faktor penting dan menjadi perhatian serius.
Mahendra mengatakan, pasca pandemi, bisnis harus bersiap menghadapi gangguan dengan mengidentifikasi tantangan utama dan membangun strategi untuk menavigasi ketidakpastian.
Pengaruh Geopolitik
Menurutnya, lanskap geopolitik tetap menjadi faktor signifikan yang memengaruhi rantai pasokan global. Konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung diperkirakan akan terus memengaruhi perdagangan, dengan sanksi terhadap Rusia kemungkinan akan tetap berlaku.
Belum ada gencatan senjata resmi yang dicapai dan negosiasi antara kedua belah pihak tersebut menghadapi kendala yang cukup besar. Sanksi akan terus menargetkan bahan-bahan yang diproduksi Rusia, seperti gas, bahan bakar, dan pasokan energi lainnya.
Sementara itu, kata Mahendra, meskipun Israel-Hamas telah melakukan gencatan senjata, wilayah Laut Merah terus mengalami ketidakstabilan, yang menyebabkan jalur pelayaran menghindari Terusan Suez.
Akibatnya, operator mempertahankan layanan yang dialihkan melalui Tanjung Harapan, praktik yang akan terus berlanjut di masa mendatang. Penyesuaian ini menambah waktu dan biaya pengiriman, tetapi tetap diperlukan mengingat masalah keamanan di wilayah tersebut.
“Karenanya, bisnis yang beroperasi secara internasional harus tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik ini. Kemampuan untuk beradaptasi dengan gangguan dan menyesuaikan strategi untuk mengamankan rute alternatif sangat penting untuk menjaga integritas dan tingkat kepastian rantai pasokan dalam situasi yang tidak stabil ini,” papar Mahendra.
Hal lain yang mempengaruhi adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi pada 2025. Salah satunya perang dagang antara AS dan China yang sempat memanas pula kala Trump memimpin 2017-2021.
Kecemasan ini diperkirakan bakal berlanjut pada tahun 2025 dengan adanya kebijakan proteksionis dan tarif perdagangan, yang akan diberlakukan Donald Trump dapat memiliki konsekuensi ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Kemudian, prospek pajak yang lebih tinggi yang diberlakukan pada impor ke AS , mengkhawatirkan banyak pemimpin dunia karena kebijakan yang proteksionis itu akan membuat produk impor nya lebih mahal produk domestic AS.
“Bank Dunia mengproyeksikan kenaikan 10% atau lebih tarif AS atas impor dari setiap negara, akan mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% dan juga ketidakseimbangan lalu lintas Barang yang akhirnya akan menyebabkan harga Ocean Freight melonjak,” ucap Mahendra.
Selain geopolitik, perubahan iklim terus menjadi tantangan bagi rantai pasokan, meskipun ada prediksi dampak yang lebih ringan pada tahun 2025 akibat pola cuaca La Niña.
Mahendra mengatakan, meningkatnya suhu global dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem mengganggu rute transportasi, merusak infrastruktur, dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem mengganggu rute transportasi, merusak infrastruktur, dan mengurangi ketersediaan bahan baku penting .
Guna memitigasi risiko ini, praktik berkelanjutan, seperti mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi, dapat lebih memperkuat ketahanan rantai pasokan.
Dengan mengadopsi inisiatif ramah lingkungan kepada industiri-industri, juga selaras dengan tuntutan regulasi yang semakin meningkat terkait tanggung jawab lingkungan.
“Langkah-langkah proaktif untuk mengatasi risiko terkait iklim tidak lagi menjadi pilihan. Perusahaan yang gagal beradaptasi, berisiko tertinggal dalam persaingan pasar global,” ujar Mahendra.
Supply Chain Risk Management
Risiko rantai pasok termasuk kategori risiko yang sering terjadi dan tentunya memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja perusahaan, oleh karena itu pengelolaan Supply Chain Risk Management sangat penting untuk diimplementasikan.
Pengelolaan risiko ini bertujuan untuk mengurangi dampak dan tingkat keterjadiaan untuk memastikan keberlangsungan usaha suatu perusahaan.
Untuk itu ALI berpandangan, bahwa digitalisasi dan Teknologi Transformasi digital menjadi pilar utama dalam pengembangan rantai pasok dan logstik global.
Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data telah mengubah cara perusahaan logistik beroperasi. AI digunakan untuk memprediksi permintaan, mengoptimalkan rute pengiriman, dan meningkatkan manajemen inventory sehingga lebih akurat dan pasti.
IoT memungkinkan pemantauan real-time atas kondisi barang selama pengiriman, memastikan transparansi dan keamanan.
Big Data, di sisi lain, memberikan wawasan mendalam tentang pola konsumsi, membantu perusahaan menyesuaikan layanan sesuai kebutuhan pasar (Demand Creation).
“Otomatisasi juga menjadi faktor penting, dengan penggunaan teknologi seperti robotika di gudang untuk mempercepat proses penyortiran dan pengemasan barang. Inovasi ini meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya, dan mempercepat waktu pengiriman,” ucap Mahendra.
Regulasi
Ketua Dewan Pakar ALI, Nofrisel menambahkan, regulasi dan kebijakan Pemerintah merupakan salah satu tantangan besar di rantai pasok dan logstik Indonesia adalah kompleksitas regulasi dan kebijakan pemerintah.
“Kendala birokrasi, seperti proses perizinan yang lambat dan tumpang tindih antarinstansi, memperlambat operasional logistik. Selain itu, kebijakan perpajakan yang kurang fleksibel seringkali menjadi beban bagi pelaku usaha, terutama bagi UMKM yang ingin memanfaatkan layanan logistik modern,” ujar Nofrisel.
Dia menegaskan, Pemerintah memegang peran penting dalam menciptakan ekosistem logistik yang lebih kompetitif. Karenanya, simplifikasi regulasi, penerapan sistem digital untuk perizinan, dan harmonisasi kebijakan antarinstansi menjadi langkah penting yang harus dilakukan.
“Selain itu, peningkatan efisiensi dalam pemanfaatan infrastruktur logistik yang sudah ada, juga diperlukan untuk mendukung pengembangan industri ini,” ujar Nofrisel.[am]
Sumber Berita :
https://www.logistiknews.id/2025/01/23/ali-optimistis-industri-rantai-pasok-logistik-indonesia-2025-masih-cerah/Berita Terbaru
Asosiasi Logistik Nilai Belum Ada Alasan Naikkan Ongkir dan Biaya Layanan
2026-05-07
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menilai, belum ada alasan kuat bagi platform digital maupun aplikator logistik untuk menaikkan tarif layanan dan ongkos kirim di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Sebelumnya, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merespons keluhan pelaku usaha terkait kenaikan biaya logistik dan biaya layanan di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop yang mulai berlaku sejak Mei 2026. Ketua Umum ALI Mahendra Rianto mengatakan, seluruh pelaku dalam ekosistem logistik dan perdagangan digital seharusnya mengedepankan prinsip bertahan bersama, bukan mengambil keuntungan sepihak di tengah tekanan ekonomi saat ini. “Dalam situasi yang lagi susah begini, jangan mengambil manfaat, mengambil untung. Jadi kalau kita mau sama-sama, ayo sama-sama. Jangan mau menang sendiri,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026). Menurut Mahendra, faktor utama yang biasanya mendorong kenaikan biaya logistik adalah harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, pemerintah saat ini masih mempertahankan harga BBM subsidi seperti biosolar dan pertalite, sehingga biaya operasional logistik relatif stabil. “Sebetulnya nggak ada poin untuk bisa menaikkan harga dalam situasi seperti ini. Karena titik utamanya yang menyebabkan biaya logistik naik adalah dari BBM,” katanya. Ia menjelaskan, komponen bahan bakar menyumbang sekitar 40% hingga 50% dari total biaya operasional transportasi logistik. Oleh karena itu, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga tarif logistik tetap stabil. “Solar yang sekarang kan Rp 6.800, itu kita minta dipertahankan pemerintah kabulkan. Kedua pertalite. Pertamax juga dipertahankan. Jadi cukup itu. Kita pun di jasa logistik, tarif-tarif nggak kita adjust, karena memang nggak naik bahan bakarnya,” ujarnya. Mahendra juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait komisi aplikator yang dibatasi maksimal 8%. Menurut dia, jika kebijakan tersebut dijalankan dengan baik, maka beban biaya terhadap UMKM maupun konsumen dapat ditekan. “Kalau itu bisa kita jaga, apalagi komisi dari aplikator diturunin menjadi 8%, kan sebetulnya aman. Jadi UMKM berdagang tidak terbebani untuk beban angkut ke customer maupun ke aplikator,” katanya. ALI menilai kenaikan ongkos kirim berpotensi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat dan penjualan UMKM di platform digital. Jika ongkir meningkat, konsumen berpotensi menunda pembelian sehingga permintaan terhadap produk UMKM ikut tertekan. “Kalau nggak nanti orang mau beli barang tapi transportnya tinggi. Jadi orang nggak beli. Sehingga UMKM yang berdagang di situ pun juga jadi terdampak,” ujarnya. Di sisi lain, ALI juga mendorong percepatan transisi kendaraan logistik menuju electric vehicle (EV), khususnya untuk layanan last mile delivery. Langkah tersebut dinilai dapat menekan konsumsi BBM impor sekaligus menurunkan biaya operasional logistik dalam jangka panjang. Mahendra mengatakan pemerintah perlu mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari kebijakan, penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), hingga dukungan pembiayaan murah bagi pelaku usaha logistik. “Pemerintah harus fasilitasi atau mencarikan dana murah. Karena ujung-ujungnya secara makro pemerintah akan mengurangi belanja BBM,” ujarnya. Ia menambahkan, kondisi geopolitik global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat peralihan menuju energi terbarukan di sektor logistik. “Ini semacam awakening call atau alarm kepada kita untuk beralih kepada energi-energi terbarukan secepatnya,” pungkasnya.
👁️ 56 kali
Pengusaha Logistik Siap Beralih ke Kendaraan Listrik, Asal Ekosistem Didukung
2026-05-07
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik Indonesia menilai pelaku usaha logistik mulai siap beralih menggunakan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), khususnya untuk layanan last mile delivery. Namun, percepatan transisi dinilai tetap membutuhkan dukungan ekosistem dan insentif dari pemerintah. Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto, mengatakan penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya operasional logistik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Menurut dia, sektor logistik menjadi salah satu pengguna BBM terbesar di Indonesia sehingga peralihan ke kendaraan listrik akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya dan penghematan fiskal negara. “Kita mengusulkan untuk pemerintah mempercepat perkembangan electric vehicle untuk last mile delivery,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026). Mahendra menjelaskan, penggunaan EV dinilai paling realistis diterapkan lebih dulu pada layanan last mile delivery karena jarak tempuh operasional harian kendaraan relatif terbatas, sekitar 150–200 kilometer per hari. “Last mile delivery itu jarak tempuhnya sekitar 150–200 km per hari. Jadi untuk last mile delivery jarak kekuatan baterai 150–200 cukup,” katanya. Meski demikian, ia mengakui kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) memang mulai bertambah, terutama di wilayah Jabodetabek, tetapi masih belum memadai untuk mendukung operasional logistik secara luas. “SPKLU di Jabodetabek ini sudah banyak. Cuman kurang banyak,” ujarnya. Karena itu, ALI meminta pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari penyebaran SPKLU fast charging hingga dukungan terhadap pool kendaraan logistik. Mahendra menilai pembangunan infrastruktur pengisian daya seharusnya tidak dibebankan kepada perusahaan logistik, melainkan menjadi bagian dari dukungan pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara. “Nah ini mustinya infrastrukturnya ditanggung oleh PLN. Jadi ekosistemnya terbentuk,” katanya. Selain infrastruktur, pelaku usaha juga membutuhkan dukungan pembiayaan murah untuk mempercepat migrasi armada ke kendaraan listrik. Menurut ALI, pemerintah dapat menggandeng perbankan maupun BUMN keuangan untuk menyediakan kredit khusus bagi industri logistik. “Pemerintah harus fasilitasi atau mencarikan dana murah bekerjasama dengan BI atau Himbara,” ujarnya. Mahendra menambahkan, percepatan adopsi kendaraan listrik di sektor logistik juga perlu diimbangi dengan pengembangan industri kendaraan niaga listrik dalam negeri, termasuk truk logistik berbasis EV yang saat ini masih terbatas. Ia menilai situasi global dan tingginya ketergantungan terhadap BBM fosil harus menjadi momentum percepatan transisi energi di sektor logistik nasional. “Ini semacam awakening call atau alarm kepada kita untuk beralih kepada energi-energi terbarukan secepatnya,” pungkasnya.
👁️ 41 kali
Kenaikan Biaya Logistik E-Commerce, Ini Dampaknya bagi UMKM dan Seller
2026-05-06
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform e-commerce mulai menaikkan biaya logistik yang ditanggung pedagang (seller) sejak Mei 2026. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan kanal digital sebagai sumber utama penjualan. Dari sudut pandang platform, penyesuaian biaya logistik dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan. Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia Budi Primawan menjelaskan bahwa industri logistik saat ini menghadapi tekanan biaya yang signifikan, mulai dari distribusi, energi, pergudangan, hingga layanan last-mile delivery. Menurutnya, tekanan tersebut turut dipicu oleh kondisi geopolitik global yang meningkatkan volatilitas harga energi. Dampaknya, rantai pasok global terganggu dan biaya logistik secara keseluruhan mengalami kenaikan. Budi menyebut bahwa besaran kenaikan biaya logistik bervariasi tergantung pada platform, kategori produk, wilayah pengiriman, serta jenis layanan logistik yang digunakan. Oleh karena itu, belum ada angka tunggal yang dapat mewakili seluruh ekosistem e-commerce. Dampaknya terhadap seller pun tidak seragam. Faktor seperti model bisnis, lokasi pengiriman, kategori produk, serta strategi promosi menjadi penentu seberapa besar beban tambahan yang dirasakan pedagang. "Secara umum, yang terjadi saat ini lebih berupa penyesuaian bertahap terhadap struktur subsidi dan biaya layanan," katanya kepada Kontan, Rabu (6/5/2026). Strategi Platform Jaga Daya Saing Seller Untuk meredam dampak terhadap seller, platform e-commerce juga melakukan berbagai langkah mitigasi. Mulai dari promosi yang lebih terukur, optimalisasi teknologi, hingga efisiensi logistik dan kampanye pemasaran guna meningkatkan trafik serta konversi penjualan. "Dari perspektif asosiasi, yang terpenting adalah menjaga komunikasi, transparansi, dan ruang adaptasi bagi seluruh pelaku ekosistem," ujar Budi. Biaya Operasional Kurir Ikut Meningkat Dari sisi perusahaan logistik, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) juga mengakui adanya tekanan biaya yang meningkat. Ketua Umum Asperindo Budiyanto Darmastono menjelaskan bahwa lonjakan volume pengiriman e-commerce dalam beberapa tahun terakhir membuat kompleksitas last-mile delivery semakin tinggi. Selain itu, dalam struktur biaya perusahaan kurir, komponen transportasi dan distribusi dapat menyumbang hingga 40%–50% dari total biaya operasional. "Karena itu, perubahan harga BBM dan biaya mobilitas sangat memengaruhi ongkos pengiriman," kata Budiyanto kepada Kontan, Rabu (6/5/2026). Ia menambahkan, kenaikan tarif pengiriman domestik saat ini berada di kisaran single digit hingga belasan persen. Untuk wilayah dengan tantangan distribusi lebih tinggi, seperti luar Jawa atau daerah dengan akses logistik terbatas, kenaikannya bisa lebih besar dibandingkan rute utama. Upaya Efisiensi Industri Logistik Meski demikian, perusahaan jasa pengiriman tetap berupaya menjaga keberlangsungan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi digital nasional. Sejumlah strategi dilakukan, seperti optimalisasi rute distribusi, pemanfaatan teknologi, konsolidasi pengiriman, hingga otomatisasi proses sortir. Selain itu, pengembangan fulfillment center dan hub regional juga menjadi langkah strategis untuk menekan biaya distribusi. Tak hanya itu, perusahaan kurir masih menyediakan program khusus, skema tarif berbasis volume, serta kerja sama strategis dengan marketplace dan seller UMKM. "Harapannya, penyesuaian tarif yang terjadi tetap berada pada level yang wajar dan tidak menghambat pertumbuhan ekosistem perdagangan digital nasional," jelas Budiyanto. UMKM Berpotensi Naikkan Harga Jual Dari sisi pelaku usaha, kenaikan biaya logistik berpotensi mendorong seller menaikkan harga jual produk guna menjaga margin keuntungan. Namun demikian, UMKM diperkirakan tidak akan meninggalkan kanal digital sepenuhnya. Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero menilai pelaku usaha akan mengadopsi strategi omnichannel dengan tetap mempertahankan penjualan online sekaligus mengoptimalkan kanal offline. "Dengan adanya kenaikan harga layanan ini, pelaku usaha selain berjualan online juga akan mengoptimalkan penjualan offline. Namun, tidak sepenuhnya meninggalkan kanal digital, terutama di era digitalisasi saat ini," kata Edy.
👁️ 47 kali
