Taktik TIKI Memacu Inovasi Digital dan Mengkreasikan Talenta Muda Logistik
Vicky Rachman
Swa.co.id
2024-10-01
PT. Citra Van Titipan Kilat atau TIKI, mencermati kebutuhan konsumen untuk memperoleh pelayanan jasa logistik dan kurir yang mudah diakses serta ada komunikasi dua arah. Lantaran demikian, TIKI memutakhirkan fitur dan menyematkan kecerdasan buatan (artificiall intelligence/AI) di platform digital di masa pandemi hingga pasca pandemi Covid-19.
Pengembangan digital ini bertujuan untuk memberikan pengalaman konsumen yang unggul. Widiantoro, Operational Gateway and IT General Manager TIKI, mengatakan TIKI sejak mulai beroperasi pada 1970 hingga saat ini menjaga relevansi produk dan layanannya. Era digital ini menciptakan interaksi yang baru antara TIKI dan konsumen. "Customer semakin kritis dan komunikasi yang seamless, tanpa batas," ujar Edwin pada pemaparan di Indonesia Original Brands & Most Reputable Companies 2023 seperti ditulis SWAonline pada Rabu (10/1/2024).
Perubahan perilaku konsumen dan menjamurnya perusahaan logistic kian menambah persaingan bisnis di industri logistik nasional. Bisnis logistik yang kompetitif itu tak membuat roda bisnis TIKI melambat. "TIKI berusia 53 tahun dan kami berusaha menunjukkan eksistensi kami di industri logistik pada era digital," ujarnya.
Agar layanan TIKI tetap relevan, Edwin menjabarkan strategi dan inovasi TIKI mengkreasikan excellence customer experience. Perusahaan yang beroperasi sejak 53 tahun silam itu mengkreasikan pengalaman konsumen nomor wahid berlandaskan lima pilar, yaitu customer, network, process, technology, dan people.
Contohnya, manajemen TIKI merealisasikan prinsip Walk The Talk, seperti memenuhi janji kepada konsumen untuk mengirim paket dalam 1 hari atau 2 hari. "Bukan hanya tercepat tetapi kami bisa memenuhi janji kepada konsumen," imbuhnya. Kemudian, manajemen aktif mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan memberikan solusi untuk menuntaskan kendala yang dihadapi konsumen, dan peduli kepada sosial serta lingkungan seiring dilaksankan program CSR TIKI.
Langkah nyata lainnya adalah inovasi produk dan layanan terbaru. TIKI pada 2021, misalnya, mengembangkan solusi pengiriman pada gerai drive thru TIKI untuk memudahkan transaksi konsumen. Tak hanya itu, TIKI memperluas jaringan seiring kemitraan dengan menciptakan sharing office bersamaSnappy dan Bank Mandiri Taspen.
Model kolaborasi TIKI dengan Bank Mandiri Taspen, Snappy, atau perusahaan kurir lainnya itu adalah saling berbagi armada di daerah. ”Kami bisa menggunakan armada mereka atau sebaliknya sehingga lebih efisien, dan di sisi lain berkontribusi mengurangi emisi gas karbon,” katanya.
TIKI memiliki jaringan operasional yang luas dan mencakup 65 kota besar di Indonesia, lebih dari 500 kantor perwakilan, 3.700 gerai, dan lebih dari 6.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. TIKI memberikan layanan pengiriman yang andal dan efisien kepada semua pelanggan lantaran cakupan jaringannya itu mudah diakses konsumen
TIKI menjaga konsistensi standar operasional dan budaya perusahaan yang terefleksikan di seluruh lini operasional. TIKI, lanjut Edwin, memberikan standar pelayanan yang andal di seluruh jaringan
Beragam pengembangan layanan di aplikasi dan website disediakan TIKI, antara lain menambah fitur payment point online booking (PPOB) di aplikasi Tiki. Fitur ini memanjakan konsumen untuk bertransaksi, seperti membayar listrik, air, dan telepon . “Mobile apps Tiki menyediakan fitur pembayaran cashless dengan berbagai macam tools pembayaran, mulai dari e-wallet, QRIS, hingga credit card,” kata Edwin.
Fitur terbaru lainnya ialah entertainment. Fitur ini menyodorkan siaran TV nasional dan konten video on demand. Jadi, aplikasi TIKI tak hanya menyodorkan jasa dan transaksi kurir. Pada aspek pelayanan, TIKI memutakhirkan beberapa fitur yang sudah ada sebelumnya, seperti fitur Pick Up Paket agar konsumen dapat memesan jadwal penjemputan paket sesuai dengan keinginannya.
Kemudian, fitur Tracking Pengiriman untuk memudahkan pelanggan melacak status kirimannya. Lalu, fitur Membership Sobat TIK, yang menyediakan beragam benefit kepada konsumen, seperti potongan harga hingga layanan prioritas.Edwin mengatakan TIKI mengembangkan digitalisasi seiring dengan peluncuran Transportation Management System berbasis AI dan meningkatkan keterikatan (engagement) konsumen di seluruh kanal media sosial. “Kami revamping aplikasi mobile TIKI dengan adanya fitur-fitur termutakhir agar layanan TIKI tetap relevan," tutur Edwin.
Menempa Talenta Muda Logistik
TIKI tak hanya mengembangkan relevansi produk dan layanannya saja. Perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini menautkan relevansi industri logistik dengan generasi muda berkarier di bidang ini. Caranya, TIKI dan lima perguruan tinggi berkolaborasi untuk mencetak talenta muda di industri logistik.
TIKI pada September–November 2023 berbagi pengetahuan kepada mahasiswa di Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti), Politeknik APP Jakarta dan Universitas Pertamina di Jakarta serta Telkom University dan Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Jawa Barat. TIKI menggelar Goes To Campus di perguruan tinggi tersebut. Kegiatan yang bertajuk #LogisTIKIndonesiaButuhAnakMuda itu menempa para mahasiswa menjadi talenta dan pelaku usaha logistik.
Kerja sama dengan perguruan tinggi tersebut mencakup program pelatihan dan pendidikan mahasiswa melalui praktisi mengajar dan kunjungan mahasiswa, program beasiswa mahasiswa berprestasi, dan magang kerja. Tidak hanya itu, kerja sama tersebut pun memfasilitasi karyawan TIKI yang ingin memperkaya ilmu pengetahuannya dan menempuh pendidikan melalui program khusus antara TIKI dengan perguruan tinggi, dan membuka peluang kewirausahaan melalui program kemitraan TIKI dengan program khusus.
Pada kesempatan terpisah, Yulina Hastuti, Direktur Utama TIKI, menyampaikan TIKI berikhtiar untuk berkontribusi mengembangkan sektor kurir dan logistik di Indonesia. “Regenerasi di sektor ini perlu terus diupayakan dengan melibatkan para pelaku industri agar kompetensi yang dicetak sesuai dengan kebutuhan industri masa depan yang semakin digital. Hal inilah yang melatarbelakangi kami menggandeng seluas-luasnya lembaga pendidikan tinggi untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan di industri transportasi dan logistik yang bermanfaat bagi generasi mendatang,” kata Yulina dalam keterangan tertulisnya.
TIKI mengampanyekan bahwa sektor logistik membutuhkan partisipasi anak muda untuk mendukung regenerasi talenta di sektor logistik nasional dan meningkatkan daya saing industri ini. Lantaran demikian, TIKI berancang-ancang mempersiapkan talenta muda yang terampil, kreatif dan mengkreasikan inovasi di industri logistik.
Sektor logistik diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan di masa mendatang. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengestimasikan pertumbuhan industri logistik sebesar 5-8%. Industri ini akan ditopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Data yang disodorkan Google, Temasek & Bain yang dirilis pada November 2023 itu mengestimasikan nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia pada 2025 senilai US$ 109 miliar. Nilai GMV ini diperkirkan melonjak berlipat ganda di 2030.. Kontributor terbesar pertumbuhan ini diperkirakan bersumber dari e-commerce. Dampaknya, sektor logistik akan mengalami pertumbuhan seiring peningkatan ekonomi digital nasional.
Pertumbuhan industri logistik direspons TIKI yang menggandeng perguruan tinggi. Sebab, sejumlah perguruan tinggi menyediakn Program Studi Logistik. Erika Fatma, Ketua Program Studi Manajemen Logistik Industri Elektronika Politeknik APP Jakarta, mengatakan, dalam 3-5 tahun terakhir, minat generasi muda terhadap mengikuti program studi yang berkaitan dengan transportasi dan logistik di berbagai universitas mengalami peningkatan.
Berdasarkan data Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), sebanyak 19 program studi baru di bidang logistik pada jenjang D3 hingga S2 dibuka pada kurun waktu 2020 – 2023. “Untuk Politeknik APP Jakarta, jumlah peminat Program Studi Logistik pada 3-5 tahun terakhir meningkat sekitar 10-15% setiap tahunnya. Perkembangan e-commerce dan kemajuan teknologi dalam integrasi proses logistik menjadi salah satu daya tarik bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi untuk terlibat dalam pengembangan logistik di era digital,” tutur Erika.
Erika menyampaikan tantangan perguruan tinggi mengembangkan SDM saat ini adalah berpacu dengan perubahan di Industri yang bergerak dengan sangat cepat. Tingginya laju perubahan tersebut memerlukan upaya ekstra untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun oleh lembaga pendidikan, dapat menyiapkan SDM yang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang erat antara dunia industri dan dunia pendidikan.
Politeknik APP Jakarta mengapresiasi TIKI yang berkontribusi untuk berbagi pengetahuan kepada mahasiswa dan mahasiswi. “Kami memperoleh gambaran yang menyeluruh dari teori yang mereka dapatkan di kampus dengan praktik di lapangan, penyesuaian apa yang perlu dilakukan dan soft skill apa yang dibutuhkan untuk beradaptasi,” ujar Erika.
Pendapat senada disampaikan Sita Anisah Sholihah, Dosen Tetap dan Sekretaris Program Studi Logistik di ITL Trisakti. “Dulu logistik dan transportasi dianggap sekedar pendukung bisnis dalam pendistribusian dan inventori barang, namun sekarang logistik merupakan sektor strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, dan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan daya saing suatu perusahaan atau merek,” ujar Sita.
Trie Maulana A, Direktur Pelaksana TIKI, menyampaikan TIKI memacu generasi muda Indonesia untuk mempelajari potensi industri kurir dan menjajaki potensi menjadi wirausaha di sektor logistik. “Melalui program kemitraan, kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda Indonesia untuk memiliki bisnis logistik. Di sisi karier, kami juga ingin lebih banyak lagi anak muda yang bergabung dengan TIKI. Kami juga mendorong perempuan- perempuan muda dan berbakat untuk bergabung bersama kami,” kata Trie. (*)
Sumber Berita :
https://swa.co.id/swa/trends/taktik-tiki-memacu-inovasi-digital-dan-mengkreasikan-talenta-muda-logistikBerita Terbaru
Asosiasi Logistik Nilai Belum Ada Alasan Naikkan Ongkir dan Biaya Layanan
2026-05-07
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menilai, belum ada alasan kuat bagi platform digital maupun aplikator logistik untuk menaikkan tarif layanan dan ongkos kirim di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Sebelumnya, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merespons keluhan pelaku usaha terkait kenaikan biaya logistik dan biaya layanan di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop yang mulai berlaku sejak Mei 2026. Ketua Umum ALI Mahendra Rianto mengatakan, seluruh pelaku dalam ekosistem logistik dan perdagangan digital seharusnya mengedepankan prinsip bertahan bersama, bukan mengambil keuntungan sepihak di tengah tekanan ekonomi saat ini. “Dalam situasi yang lagi susah begini, jangan mengambil manfaat, mengambil untung. Jadi kalau kita mau sama-sama, ayo sama-sama. Jangan mau menang sendiri,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026). Menurut Mahendra, faktor utama yang biasanya mendorong kenaikan biaya logistik adalah harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, pemerintah saat ini masih mempertahankan harga BBM subsidi seperti biosolar dan pertalite, sehingga biaya operasional logistik relatif stabil. “Sebetulnya nggak ada poin untuk bisa menaikkan harga dalam situasi seperti ini. Karena titik utamanya yang menyebabkan biaya logistik naik adalah dari BBM,” katanya. Ia menjelaskan, komponen bahan bakar menyumbang sekitar 40% hingga 50% dari total biaya operasional transportasi logistik. Oleh karena itu, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga tarif logistik tetap stabil. “Solar yang sekarang kan Rp 6.800, itu kita minta dipertahankan pemerintah kabulkan. Kedua pertalite. Pertamax juga dipertahankan. Jadi cukup itu. Kita pun di jasa logistik, tarif-tarif nggak kita adjust, karena memang nggak naik bahan bakarnya,” ujarnya. Mahendra juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait komisi aplikator yang dibatasi maksimal 8%. Menurut dia, jika kebijakan tersebut dijalankan dengan baik, maka beban biaya terhadap UMKM maupun konsumen dapat ditekan. “Kalau itu bisa kita jaga, apalagi komisi dari aplikator diturunin menjadi 8%, kan sebetulnya aman. Jadi UMKM berdagang tidak terbebani untuk beban angkut ke customer maupun ke aplikator,” katanya. ALI menilai kenaikan ongkos kirim berpotensi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat dan penjualan UMKM di platform digital. Jika ongkir meningkat, konsumen berpotensi menunda pembelian sehingga permintaan terhadap produk UMKM ikut tertekan. “Kalau nggak nanti orang mau beli barang tapi transportnya tinggi. Jadi orang nggak beli. Sehingga UMKM yang berdagang di situ pun juga jadi terdampak,” ujarnya. Di sisi lain, ALI juga mendorong percepatan transisi kendaraan logistik menuju electric vehicle (EV), khususnya untuk layanan last mile delivery. Langkah tersebut dinilai dapat menekan konsumsi BBM impor sekaligus menurunkan biaya operasional logistik dalam jangka panjang. Mahendra mengatakan pemerintah perlu mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari kebijakan, penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), hingga dukungan pembiayaan murah bagi pelaku usaha logistik. “Pemerintah harus fasilitasi atau mencarikan dana murah. Karena ujung-ujungnya secara makro pemerintah akan mengurangi belanja BBM,” ujarnya. Ia menambahkan, kondisi geopolitik global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat peralihan menuju energi terbarukan di sektor logistik. “Ini semacam awakening call atau alarm kepada kita untuk beralih kepada energi-energi terbarukan secepatnya,” pungkasnya.
👁️ 57 kali
Pengusaha Logistik Siap Beralih ke Kendaraan Listrik, Asal Ekosistem Didukung
2026-05-07
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik Indonesia menilai pelaku usaha logistik mulai siap beralih menggunakan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), khususnya untuk layanan last mile delivery. Namun, percepatan transisi dinilai tetap membutuhkan dukungan ekosistem dan insentif dari pemerintah. Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto, mengatakan penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya operasional logistik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Menurut dia, sektor logistik menjadi salah satu pengguna BBM terbesar di Indonesia sehingga peralihan ke kendaraan listrik akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya dan penghematan fiskal negara. “Kita mengusulkan untuk pemerintah mempercepat perkembangan electric vehicle untuk last mile delivery,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (7/5/2026). Mahendra menjelaskan, penggunaan EV dinilai paling realistis diterapkan lebih dulu pada layanan last mile delivery karena jarak tempuh operasional harian kendaraan relatif terbatas, sekitar 150–200 kilometer per hari. “Last mile delivery itu jarak tempuhnya sekitar 150–200 km per hari. Jadi untuk last mile delivery jarak kekuatan baterai 150–200 cukup,” katanya. Meski demikian, ia mengakui kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) memang mulai bertambah, terutama di wilayah Jabodetabek, tetapi masih belum memadai untuk mendukung operasional logistik secara luas. “SPKLU di Jabodetabek ini sudah banyak. Cuman kurang banyak,” ujarnya. Karena itu, ALI meminta pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari penyebaran SPKLU fast charging hingga dukungan terhadap pool kendaraan logistik. Mahendra menilai pembangunan infrastruktur pengisian daya seharusnya tidak dibebankan kepada perusahaan logistik, melainkan menjadi bagian dari dukungan pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara. “Nah ini mustinya infrastrukturnya ditanggung oleh PLN. Jadi ekosistemnya terbentuk,” katanya. Selain infrastruktur, pelaku usaha juga membutuhkan dukungan pembiayaan murah untuk mempercepat migrasi armada ke kendaraan listrik. Menurut ALI, pemerintah dapat menggandeng perbankan maupun BUMN keuangan untuk menyediakan kredit khusus bagi industri logistik. “Pemerintah harus fasilitasi atau mencarikan dana murah bekerjasama dengan BI atau Himbara,” ujarnya. Mahendra menambahkan, percepatan adopsi kendaraan listrik di sektor logistik juga perlu diimbangi dengan pengembangan industri kendaraan niaga listrik dalam negeri, termasuk truk logistik berbasis EV yang saat ini masih terbatas. Ia menilai situasi global dan tingginya ketergantungan terhadap BBM fosil harus menjadi momentum percepatan transisi energi di sektor logistik nasional. “Ini semacam awakening call atau alarm kepada kita untuk beralih kepada energi-energi terbarukan secepatnya,” pungkasnya.
👁️ 42 kali
Kenaikan Biaya Logistik E-Commerce, Ini Dampaknya bagi UMKM dan Seller
2026-05-06
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform e-commerce mulai menaikkan biaya logistik yang ditanggung pedagang (seller) sejak Mei 2026. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan kanal digital sebagai sumber utama penjualan. Dari sudut pandang platform, penyesuaian biaya logistik dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan. Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia Budi Primawan menjelaskan bahwa industri logistik saat ini menghadapi tekanan biaya yang signifikan, mulai dari distribusi, energi, pergudangan, hingga layanan last-mile delivery. Menurutnya, tekanan tersebut turut dipicu oleh kondisi geopolitik global yang meningkatkan volatilitas harga energi. Dampaknya, rantai pasok global terganggu dan biaya logistik secara keseluruhan mengalami kenaikan. Budi menyebut bahwa besaran kenaikan biaya logistik bervariasi tergantung pada platform, kategori produk, wilayah pengiriman, serta jenis layanan logistik yang digunakan. Oleh karena itu, belum ada angka tunggal yang dapat mewakili seluruh ekosistem e-commerce. Dampaknya terhadap seller pun tidak seragam. Faktor seperti model bisnis, lokasi pengiriman, kategori produk, serta strategi promosi menjadi penentu seberapa besar beban tambahan yang dirasakan pedagang. "Secara umum, yang terjadi saat ini lebih berupa penyesuaian bertahap terhadap struktur subsidi dan biaya layanan," katanya kepada Kontan, Rabu (6/5/2026). Strategi Platform Jaga Daya Saing Seller Untuk meredam dampak terhadap seller, platform e-commerce juga melakukan berbagai langkah mitigasi. Mulai dari promosi yang lebih terukur, optimalisasi teknologi, hingga efisiensi logistik dan kampanye pemasaran guna meningkatkan trafik serta konversi penjualan. "Dari perspektif asosiasi, yang terpenting adalah menjaga komunikasi, transparansi, dan ruang adaptasi bagi seluruh pelaku ekosistem," ujar Budi. Biaya Operasional Kurir Ikut Meningkat Dari sisi perusahaan logistik, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) juga mengakui adanya tekanan biaya yang meningkat. Ketua Umum Asperindo Budiyanto Darmastono menjelaskan bahwa lonjakan volume pengiriman e-commerce dalam beberapa tahun terakhir membuat kompleksitas last-mile delivery semakin tinggi. Selain itu, dalam struktur biaya perusahaan kurir, komponen transportasi dan distribusi dapat menyumbang hingga 40%–50% dari total biaya operasional. "Karena itu, perubahan harga BBM dan biaya mobilitas sangat memengaruhi ongkos pengiriman," kata Budiyanto kepada Kontan, Rabu (6/5/2026). Ia menambahkan, kenaikan tarif pengiriman domestik saat ini berada di kisaran single digit hingga belasan persen. Untuk wilayah dengan tantangan distribusi lebih tinggi, seperti luar Jawa atau daerah dengan akses logistik terbatas, kenaikannya bisa lebih besar dibandingkan rute utama. Upaya Efisiensi Industri Logistik Meski demikian, perusahaan jasa pengiriman tetap berupaya menjaga keberlangsungan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi digital nasional. Sejumlah strategi dilakukan, seperti optimalisasi rute distribusi, pemanfaatan teknologi, konsolidasi pengiriman, hingga otomatisasi proses sortir. Selain itu, pengembangan fulfillment center dan hub regional juga menjadi langkah strategis untuk menekan biaya distribusi. Tak hanya itu, perusahaan kurir masih menyediakan program khusus, skema tarif berbasis volume, serta kerja sama strategis dengan marketplace dan seller UMKM. "Harapannya, penyesuaian tarif yang terjadi tetap berada pada level yang wajar dan tidak menghambat pertumbuhan ekosistem perdagangan digital nasional," jelas Budiyanto. UMKM Berpotensi Naikkan Harga Jual Dari sisi pelaku usaha, kenaikan biaya logistik berpotensi mendorong seller menaikkan harga jual produk guna menjaga margin keuntungan. Namun demikian, UMKM diperkirakan tidak akan meninggalkan kanal digital sepenuhnya. Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero menilai pelaku usaha akan mengadopsi strategi omnichannel dengan tetap mempertahankan penjualan online sekaligus mengoptimalkan kanal offline. "Dengan adanya kenaikan harga layanan ini, pelaku usaha selain berjualan online juga akan mengoptimalkan penjualan offline. Namun, tidak sepenuhnya meninggalkan kanal digital, terutama di era digitalisasi saat ini," kata Edy.
👁️ 50 kali
