Biaya Logistik Indonesia Tembus Rp3.000 Triliun, Daya Saing Terancam Konflik Global

Julkifli Sinuhaji

www.Pikiran-Rakyat.com

Biaya Logistik Indonesia Tembus Rp3.000 Triliun, Daya Saing Terancam Konflik Global

PIKIRAN RAKYAT - Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto mengungkapkan beban biaya logistik nasional masih menjadi hambatan utama bagi daya saing ekonomi Indonesia di tahun 2026.

Ia menyebutkan biaya logistik Indonesia saat ini menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) masih bertengger di angka 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Jika dikonversi dengan nilai tukar saat ini, angka itu mencapai lebih dari Rp3.000 triliun. Ini beban yang sangat besar bagi industri. Tanpa manajemen yang baik, ini hanya akan menjadi sunk cost yang membuat produk kita kalah saing di pasar global,” ujar Mahendra dalam pemaparan Outlook Logistics Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Mahendra menyoroti fluktuasi biaya logistik juga dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz, Timur Tengah. Eskalasi militer di wilayah tersebut berdampak langsung pada pasokan bahan baku industri dalam negeri.

Selain itu, kebijakan tarif perdagangan internasional dan keterlibatan Indonesia dalam aliansi global baru turut menambah volatilitas rantai pasok.

“Biasanya kita rilis Outlook di Januari, tapi kondisi global tahun ini sangat dinamis. Selat Hormuz adalah jalur urat nadi bahan baku kita. Begitu di sana terganggu, volatilitas harga di tingkat domestik tak terhindarkan,” kata dia,

Meski dibayangi biaya tinggi lanjut dia, sektor transportasi dan pergudangan justru menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 8%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5%. Fenomena ini ditandai dengan maraknya pembangunan gudang-gudang modern bertingkat di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Mahendra meminta pemerintah lebih jeli dalam menerapkan kebijakan, terutama terkait penertiban truk Over Dimension Over Loading (ODOL). Mahendra menekankan, meski tujuannya baik, penerapan ODOL tanpa insentif fiskal atau solusi alternatif angkutan justru akan melambungkan biaya logistik lebih tinggi lagi.

"Kuncinya adalah penataan rantai pasok yang matang. Jika kita ingin meniru China atau India sebagai basis manufaktur dunia, pemerintah harus fokus memberikan fasilitas dan insentif bagi penyedia jasa logistik agar beban biaya 14,9% itu bisa ditekan,” kata dia.

 

RI Ingin Turunkan Biaya Logistik

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menargetkan penurunan rasio biaya logistik nasional menjadi 12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029 untuk meningkatkan daya saing dan menekan harga produk lokal agar lebih terjangkau di pasar domestik maupun global.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan efisiensi logistik menjadi salah satu kunci utama untuk memperkuat struktur biaya produksi nasional.

“Kami tuh baru mau akan menargetkan dari 14,29 persen menjadi 12 persen di tahun 2029. Kemudian di 2045, kami baru mau akan (mengupayakan) menjadi 8 persen,” kata Iqbal Shoffan Shofwan di Tangerang, 4 November 2025 lalu, dikutip dari Antara.

Ia menyampaikan penurunan bertahap hingga 8 persen pada 2045 tersebut juga akan diiringi dengan perbaikan infrastruktur, digitalisasi rantai pasok, dan sinergi antarinstansi.

Iqbal menilai tantangan utama Indonesia terletak pada karakteristik geografis sebagai negara kepulauan dan perbedaan tingkat penggunaan teknologi produksi dibandingkan negara pesaing, seperti Vietnam dan India. ***

 

 

Sumber Berita :
https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-019987285/biaya-logistik-indonesia-tembus-rp3000-triliun-daya-saing-terancam-konflik-global?page=all
Berita Terbaru

Link berhasil disalin!